PENDAHULUAN menjadi warga negara yang demokratif, bertanggung jawab

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Tujuan
pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan potensi anak didik yang beriman
dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, berpengetahuan, mandiri, jujur,
kreatif, inovatif, cakap, dan menjadi warga negara yang demokratif, bertanggung
jawab dan mampu bersaing di dunian internasional. Tujuan pemerintah indonesia
adalah menjadikan seluruh masyarakat indonesia untuk cerdas, baik kecerdasan
intelektual maupun kecerdasaan emosi. Maka oleh karena itu  pemerintah telah memberikan kesempatan yang
luas dan fasilitas bagi masyarakat untuk memperoleh pendidikan. Guru merupakan
faktor terpenting bagi siswa untuk mewujudkan cita-citayang ingin diperoleh.
Dalam tugasnya mengajar guru sering dihadapkan pada berbagai permasalahan yaitu
harus mengajarkan dan mendidik individu yang berbeda. Baik perbedaan jenis
kelamin, minat, bakat, latar belakang keluarga,dan lain-lainnya.

Salah
satu tujuan siswa bersekolah untuk memperoleh prestasi yang bagus sehingga bisa
mewujudkan cita-citanya. Penyelenggaran sekolah ada melalui dua jalur yaitu,
jalur formal dan informal. Jalur formal merupakan jalur pendidikan yang
diselenggarakan disekolah dengan kegiatan belajar-mengajar berdasarkan
kurikulum dan diadakan secara berkesinambungan hingga selesai pendidikan. Jalur
informal merupakan pendidikan yang diselenggarakan diluar sekolah melalui
kegiatan belajar-mengajar yang tidak harus berjenjang dan berkesinambungan.

Keberhasilan
pendidikan sangat tergantung dari baiknya pendidikan dari kelurga, sekolah, dan
lingkungan masyarakat. Apabila ketiga komponen ini berjalan dengan baik maka
pendidikan pun akan berhasil. Sedangkan apabila salah satu dari komponen ini
ada yang tidak ada, maka akan berdampak pula dalam pendidikan. Lingkungan
Masyarakat merupakan pendidikan yang dipeoleh seorang anak diluar rumah, yang
mana lingkungan masyarakat ini sangat berpengaruh terhadap prestasi si anak.
Pemerintah menyediakan tempat untuk dapat belajar yaitu sekolah. Sekolah
menampung siswa-siswa dari berbagai macam latar belakang keluarga  atau sosial ekonomi yang berbeda. Bahar dalam
Yerikho (2007), menyatakan bahwa: pada umumnya anak yang berasal dari keluarga
menengah kaeatas lebih banyak mendapatkan pengarahan dan bimbingan yang baik
dari orang tua mereka. Anak-anak yang berlatar belakang ekonomi rendah, kurang
dapat mendapat bimbingan dan pengarahan yang cukup dari orang tua mereka,
karena orang tua lebih memusatkan perhatiannya pada bagaimana untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari.

            Keluarga merupakan lembaga
pendidikan pertama yang diperoleh oleh setiap anak. Pendidikan keluarga yang
baik akan membawa pengaruh yang baik karna pendidkan pertama yang diperoleh
oleh seorang anak akan lebih melekat dalam diri seorang anak. Keluarga
bertanggung jawab dalam memberikan ekonomi/dana kepada seorang anak. Keluarga
yang berstatus sosial ekonomi tinggi akan mudah dalam memfasilitasi anak dalam
belajar, sehingga anak akan dengan mudah mendapat fasilitas dan tidak ada
hambatan dalam proses belajar nya. Sedangkan anak yang latar belakang dari
keluarga yang status sosial ekonomi rendah akan mengalami hambatan dalam
mendapatkan fasilitas belajarnya.

 

1.2
Rumusan Masalah

            Dari
latar belakang uraian latar belakang, maka rumusan masalahnya adalah :

1.      Apa
definisi belajar, keluarga dan ekonomi?

2.      Apa
saja faktor kesulitan anak dalam belajar?

3.      Bagaimana
ekonomi dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa?

 

1.2  Tujuan

Tujuan yang hendak dicapai dalam makalah
ini adalah :

1.      Untuk
mengetahui apa itu belajar, keluarga dan ekonomi

2.      Untuk
mengetahui faktor kesulitan anak dalam belajar

3.      Untuk
mengetahui pengaruh ekonomi terhadap prestasi belajar siswa

 

 

 

 

 

 

BAB II

RINGKASAN

 

            2.1 
ISU-ISU POKOK

1.      Keadaan
sosial ekonomi keluarga sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa.
Dikarenakan kebutuhan-kebutuhan yang harus dimiliki oleh anak. Kebutuhan yang
harus terpenuhi seperti makanan, pakaian, buku pelajaran, dan lain-lain. Semua
kebutuhan tersebut hanya dapat tepenuhi jika keluarga  mempunyai cukup uang untuk memenuhi nya.

2.      Menurut
salah satu penelitian yang ada pada jurnal menyatakan bahwa Status sosial
ekonomi orang tua memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap prestasi
belajar, dengan nilai signifikansi, sehingga hipotesis yang menyatakan “Ada
pengaruh positif dan signifikan status sosial ekonomi orang tua terhadap
prestasi belajar siswa 

3.      Kehidupan
sosial ekonomi keluarga yang layak akan tercipta suasana yang baik, nyaman,
aman dan damai dan boleh dikatakan makmur, dimungkinan akan membawa dampak
dalam proses belajar bagi anak-anak dalam satu keluarga berjalan baik.

 

2.2 PEMBAHASAN

2.2.1
Pengertian Belajar, Keluarga dan Ekonomi

1.
Pengertian Belajar

 Slameto (2003;2) menyatakan bahwa ” belajar
sebagai suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu
perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman
individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.  Nana Sudjana (1989:5) mengemukakan pandangan
lain tentang belajar yaitu suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan
pada diri seorang. Perubahan yang dihasilkan sesudah belajar dapat melalui
berbagai bentuk perilaku.contonya seperti gaya berbicara, sopan santun, dan
penampilannya.

Jadi
dapat disimpulkan Belajar merupakan kegiatan yang penting dalam kegiatan
manusia, karena belajar terwujud perubahan tingkah laku, sikap pengetahuan dan
keterampilan sehingga maju mundurnya pribadi manusia dapat dinilai dan kegiatan
ada tidaknya orang tersebut berproses dalam kegiatan belajar yang baik yaitu
perubahan ke arah yang lebih positif. Dan tujuan belajar yang lebih penting
adalah untuk meningkatkan keimanan kepada Tuhan YME dan meningkatkan kecerdasan
pengetahuan sehingga menciptakan perilaku yang lebih positif.

2.
pengertian Keluarga

Menurut Duvall
dan Logan (1986): Keluarga adalah sekumpulan orang
dengan ikatan perkawinan, kelahiran, dan adopsi yang bertujuan untuk
menciptakan, mempertahankan budaya, dan meningkatkanperkembangan fisik, mental
emosional, serta sosial dari tiap anggota keluarga. Menurut Narwoko dan Suyanto: Keluarga adalah lembaga sosial dasar
dari mana semua lembaga atau pranata sosial lainnya berkembang. Di masyarakat
mana pun di dunia, keluarga merupakan kebutuhan manusia yang universal dan
menjadi pusat terpenting dari kegiatan dalam kehidupan individu.

Jadi Keluarga adalah unit terkecil dari
masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang memeliki
tujuan untuk mempertahankan dan meningkatkan perkembangan fisik dan mental.

3.      Pengertian
sosioekonomi

Ekonomi merupakan usaha memanfaatkan
segala sumber daya untuk memproduksi komoditas tertentu, sedangkan pendidikan
sebagai upaya untuk mencerdaskan manusia melalui pengembangan pengetahuan,
sikap dan ketrampilan.(Dadang Suhardan, 2012:4-5).

Status sosioekonomi adalah pengelompokan
orang-orang berdasarkan kesamaan karakteristik pekerjaan,pendidikan,dan
ekonomi.status ekonomi menunjukan ketidaksetaraan tertentu secara umum anggota
masyarakat memiliki.  pekerjaan yang
bervariasi prestisenya dan beberapa individu memilik akses yang lebih besar
terhadap pekeerjaan bersatatus lebih tinggi disbanding orang lain.

 

2.2.2  Faktor Kesulitan Dalam Belajar

Secara harfiah kesulitan belajar
merupakan terjemahan dari Bahasa Inggris “Learning Disability” yang
berarti ketidakmampuan belajar. Kata lain dari learning disability adalah learning difficulties dan learning differences. Ketiga istilah
tersebut memiliki nuansa pengertian yang berbeda. Di satu pihak, penggunaan
istilah learning differences lebih bernada positif, namun di pihak lain
istilah learning disabilities lebih menggambarkan kondisi faktualnya.
Untuk menghindari bias dan perbedaan rujukan, maka digunakan istilah Kesulitan
Belajar. Kesulitan belajar adalah ketidakmampuan belajar , istilah kata
yakni disfungsi otak minimal ada yang lain lagi istilahnya yakni gannguan
neurologist.

Faktor-faktor penyebab timbulnya
kesulitan belajar terdiri atasdua macam yaitu:

1. Faktor intern meliputi tiga macam,
yaitu:

a.      
Yang bersifat kognitif antara lain siswa
yang Kurangnya kemampuan dasar yang dimiliki oleh murid. Kemampuan dasar
(intelegensi) merupakan wadah bagi kemungkinan tercapainya hasil belajar. Jika
kemampuan ini rendah maka hasil yang akan dicapai pun akan rendah pula, dan ini
akan menimbulkan kesulitan belajar.

b.     
 Yang bersifat afektif antara lain seperti
labilnya emosi dan sikap. Moral yang tidak baik juga bisa berdampak dalam
proses belajar. Yang mana dapat mengalami kesulitan juga dalam proses belajar,
seperti anak yang amarah nya tidak dapat dikontrol, dan bisa menghancurkan
barang-barang yang ada disekitarnya.

c.      
Yang bersifat psikomotorik antara lain  Faktor-faktor jasmaniah, seperti
cacat tubuh, gangguan kesehatan gangguan penglihatan, pendengaran, kelainan
jasmani dan sebagainya. Misalnya anak yang terganggu pendengarannya akan lebih
banyak mengalami kesulitan dalam belajar. Ataupun Faktor-faktor bawaan, seperti
buta warna, kidal cacat tubuh dn sebagainya.

 

2. faktor
ekstern
dapat dibagi menjadi tiga macam meliputi:

a.        
Lingkungan keluarga, keluarga sangat
menentukan sang anak dalam melakukan proses pembelajaran yang baik, contohnya:
rendahnya kehidupan ekonomi keluarga, rendahnya kasih sayang, dan perhatian
dari keluarga.

b.        
 Lingkungan perkampungan atau masyarakat,
lingkungan ini  bisa berdampak positif
maupun negatif karena ini tergantung dari lingkungan yang bagaimana tempat
tinggal, contohnya: teman sepermainan (peer group) yang nakal maka
seorang anak akan sulit dalam belajar karena akan terpengaruhi dan ikut-ikutan
pada kenakalan disekitar lingkungannya

c.        
Lingkungan sekolah, ketika anak sudah
memasuki dunia sekolah maka lingkungan ini sangat berdampak terhadap proses
belajar sang anak, contohnya: kondisi dan letak gedung sekolah, dekat pasar,
serta alat-alat belajar yang berkualitas rendah.

 

2.2.3  Pengaruh Ekonomi Terhadap Prestasi Belajar
Siswa

Pendidikan melibatkan keluarga,
masyarakat, pemerintah. Ketiga hal tersebut saling berkaitan satu sama lain.
Dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah terdapat proses belajar mengajar yang
akan menghasilkan perubahan dalam individu dan kecakapan pada diri individu.
Perubahan-perubahan itu berwujud pengetahuan ataupengalaman baru yang diperoleh
individudari usaha dalam belajar.

Salah satu indikator keberhasilan
belajar dapat dilihat dari prestasi belajar. Prestasi sendiri adalah hasil
positif yang menunjukkan gambaran keberhasilan seseorang yang diraihnya dalam
suatu kegiatan atau proses belajar yang berupa perubahan dalam aspek kognitif,
afektif dan psikomotor dalam upaya mengoptimalkan kemampuan yang dimilikinya
melalui suatu kegiatan yang diikutinya. Prestasi belajar merupakan penilaian
pendidikan tentang perkembangan dan kemajuan murid yang berkenaan dengan
penguasaan bahan pelajaran yang disajikan kepada mereka serta nilai-nilai yang
terdapat dalam kurikulum setelah dilakukan kegiatan evaluasi. Ini menunjukan bahwa
prestasi belajar siswa tersebut tidak dapat diketahui tanpa adanya
penilaian/evaluasi terhadap siswa tersebut.

Tingkat prestasi yang dimiliki oleh
siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah status sosial
ekonomi orang tua. Peranan sosial ekonomi keluarga sangat berpengaruh terhadap
prestasi belajar siswa. Sosial ekonomi ini dapat berdampak kedalam hal yang
positif terhadap proses belajar mengajar siswa, karena siswa membutuhkan begitu
banyak kebutuhan untuk menunjang prestasi belajar nya. Alat-alat yang
dibutuhkan seperti makanan yang sehat, pakaian, buku pelajran, komputer, dan
lain-lain. Dimana alat-alat tersebut sangat dibutuhkan sehingga dapat
memudahkan siswa dalam belajar, pengelolaan bahan pelajaran, dan untuk
mendapatkan informasi dengan mudah.  Hal
ini didukung oleh pendapat Gerungan (2004:196) menyatakan bahwa keadaan
sosio-ekonomi keluarga tentulah berpengaruh terhadap perkembangan anakanak,
apabila kita perhatikan bahwa dengan adanya perekonomian yang cukup, lingkungan
material yang dihadapi anak dalam keluarga itu lebih luas, ia mendapat
kesempatan yang lebih luas untuk mengembangkan bermacam-macam kecakapan yang
tidak dapat ia kembangkan apabila tidak ada prasarananya. Hal ini didukung oleh
pendapat Djaali (2014:9) menyatakan bahwa pendidikan orang tua, status ekonomi,
rumah kediaman, persentase hubungan orang tua, perkataan, dan bimbingan orang
tua mempengaruhi pencapaian prestasi belajar anak. Keadaan sosial ekonomi
keluarga sangat membantu pihak sekolah, karena dengan adanya sarana dan
prasarana dari keluarga dapat membantu dan memudahkan pihak sekolah dalam
meningkatkan proses belajar-mengajar disekolah dan juga mutu pendidikan
disekolah tersebut. Alat-alat yang dimaksud berupa buku-buku pelajaran yang
tidak ada disekolah, LKS, dan alat-alat peraga yang dibutuhkan.

Menurut Slameto (2015:60), menyatakan
siswa yang belajar akan menerima pengaruh dari keluarga berupa: cara orang tua
mendidik, relasi antara anggota keluarga, suasana rumah tangga, dan keadaan
ekonomi keluarga. Meskipun pendapatan yang diperoleh orang tua siswa hanya
cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan pendidikan orang tua siswa
juga rendah, tetapi kesadaran orang tua siswa untuk memenuhi fasilitas belajar
anaknya sudah cukup baik. Terbukti bahwa siswa sudah mempunyai meja dan kursi,
meskipun hanya sekedar meja dan kursi belajar biasa. Siswa juga mempunyai buku
panduan meskipun hanya buku LKS (Lembar Kerja Siswa).

Keluarga merupakan kelompok sosial, yang
didalamnya akan terjadi tidakan sosial. Kehidupan sosial ekonomi keluarga yang
layak akan tercipta suasana yang baik, nyaman, aman dan damai dan boleh
dikatakan makmur, dimungkinan akan membawa dampak dalam proses belajar bagi
anak-anak dalam satu keluarga berjalan baik. Status sosial ekonomi, keterlibatan
orang tua adalah faktor yang sangat penting dalam prestasi siswa. Dengan
perbedaan status sosial ekonomi yang berbeda dapat berpengaruh pada prestasi
belajar siswa di sekolah. Orang tua siswa juga mengijinkan anaknya mengikuti
les untuk mata pelajaran tertentu. Biaya untuk mengikuti les juga tidak mahal
karena membayarnya setiap kali pertemuan saja dan dalam 1 minggu hanya 2x
pertemuan. Jadi orang tua siswa tidak keberatan dalam membayarnya. Hal ini
menandakan bahwa kesadaran orang tua terhadap pendidikan anaknya sudah tinggi.
Ada juga orang tua siswa yang hanya bisa membelikan buku saja untuk anaknya,
tetapi hal ini tidak membuat siswa malas dalam belajar karena siswa bisa
meminjam buku di perpustakaan sekolah ataupun meminjam kepada teman yang mempunyai
buku panduan. Siswa yang hanya mempunyai fasilitas belajar seadanya hanya mampu
memanfaatkann fasilitas yang tersedia sebaik mungkin. Status sosial ekonomi
tersebut adalah tingkat pekerjaan, tingkat pendidikan dan jumlah pendapatan
yang diterima oleh orang tua setiap bulannya, oleh peneliti ketiga aspek
tersebut dijadikan sebagai indikator dalam penelitian. Apabila status sosial
ekonomi orang tua siswa baik maka kesempatan siswa untuk memperoleh fasilitas
belajar di rumah yang lengkap semakin besar. Berbeda dengan status sosial
ekonomi orang tua siswa yang kurang baik, kebanyakan siswa yang status sosial
ekonomi nya kurang baik fasilitas belajarnya di rumah kurang lengkap.
Kesimpulannya adalah bahwa semakin tinggi status sosial ekonomi orang tua maka
fasilitas belajar anak di rumah akan semakin terpenuhi, dan siswa akan lebih
terdorong dalam proses belajarnya, sehingga prestasi belajar siswa akan lebih
meningkat. Tingkat prestasi yang dimiliki oleh siswa dipengaruhi oleh beberapa
faktor, salah satunya adalah status sosial ekonomi orang tua. Menurut Slameto
(2015:63), menjelaskan bahwa keadaan ekonomi keluarga erat hubungannya dengan
keberhasilan prestasi belajar anak. Kebutuhan-kebutuhan anak yang harus
terpenuhi dalam proses belajar adalah makanan, pakaian, kesehatan, dan
fasilitas belajar seperti ruang belajar, meja, kursi, penerangan, bukubuku.
Fasilitas belajar ini hanya dapat terpenuhi jika orang tuanya mempunyai cukup
uang.

 

 

 

 

 

BAB
III

PENUTUP

 

3.1  Kesimpulan

Status sosioekonomi adalah pengelompokan
orang-orang berdasarkan kesamaan karakteristik pekerjaan,pendidikan,dan
ekonomi.status ekonomi menunjukan ketidaksetaraan tertentu secara umum anggota
masyarakat memiliki.

Keadaan
sosial ekonomi keluarga sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa.
Dikarenakan kebutuhan-kebutuhan yang harus dimiliki oleh anak. Kebutuhan yang
harus terpenuhi seperti makanan, pakaian, buku pelajaran, dan lain-lain. Semua
kebutuhan tersebut hanya dapat tepenuhi jika keluarga  mempunyai cukup uang untuk memenuhi nya.

 

 

3.2  Rekomendasi

Saran yang dapat penulis berikan yaitu
bahwa keadaan status sosial ekonomi orang tua sangatlah penting, karena dengan
keadaan status ekonomi orang tua yang baik maka akan dapat memenuhi fasilitas
belajar anak, sehingga anak dapat belajar lebih maksimal sehingga prestasi
belajar anak lebih meningkat. Fasilitas dari orang tua juga mendukung
kelancaran dan kenyamanan proses belajar di rumah sehingga dapat mendukung
pencapaian prestasi belajar siswa.

1.        
Bagi sekolah diharapkan adanya jalinan
komunikasi dan kerjasama dengan orang tua dalam mendidik anak. Adanya kerjasama
tersebut, dua belah pihak akan mendapatkan informasi yang penting tentang
masalah dan kesulitan yang dialami anak sehingga memudahkan baik orang tua atau
guru dalam penyelesaiannya.

2.        
 Bagi siswa, hendaknya dapat memanfaatkan
fasilitas dari orang tua dengan baik.

3.        
 Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan dapat
mengembangkan penelitian sejenis dengan memasukkan variabel-variabel lain yang
belum diteliti dalam penelitian ini.

 

DAFTAR
PUSTAKA

 

 Pidarta,
Made. 2007. Landasan Kependidikan (Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak
Indonesia).  Jakarta: PT. Rineka Cipta

Satmoko,
Retno Sriningsih. 1999. Landasan Kependidikan (Pengantar ke arah Ilmu
Pendidikan Pancasila). Semarang: CV. IKIP Semarang Press.

Syamsuddin, Abin. (2004). Psikologi
Kependidikan Perangkat Sistem Pengajaran Modul. Bandung: PT Remaja
Rosda Karya

Nur Chotimah Lilis, Hety Mustika
Ani. Pengaruh status sosial ekonomi
keluarga terhadap belajar siswa (Studi Kasus Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Jember
Tahun Ajaran 2016/2017).  Jember : Program
Studi Pendidikan Ekonomi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas
Jember. Volume 11 Nomor 1 (2017)

Saprudin, Wahjoedi, Utami
Widiati. 2016.  Kondisi Sosial Ekonomi Orang Tua dan Motivasi
Belajar Terhadap Prestasi Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial. Malang : jurnal
Program Studi Pendidikan Dasar– Pascasarjana Universitas Negeri Malang

 Yusri, Widjdati. 2014.  Pengaruh Status Sosial Ekonomi Orang Tua
Terhadap Prestasi Belajar Siswa. Semarang: jurnal  Mahasiswa
Pendidiakan Geografi IKIP Veteran Semarang

Yulinda Erma Suryani.2010.
KESULITAN BELAJAR. Jakarta : magistra. Vol No. 73 Th. XXII